Revolusi Liverpool di Bawah Asuhan Jurgen Klopp

LIVERPOOL, ENGLAND – MAY 07: Alisson Becker and Virgil van Dijk of Liverpool celebrate after the UEFA Champions League Semi Final second leg match between Liverpool and Barcelona at Anfield on May 07, 2019 in Liverpool, England. (Photo by Alex Livesey – Danehouse/Getty Images)

Dibalik kegemilangan Manchester City, Liverpool, yang selama bertahun-tahun menjadi pesakitan muncul menjadi rival utama raksasa baru, Manchester City. Dilabeli sebagai klub “Next Year”, Liverpool justru tampil menjadi sosok yang mampu memaksa Manchester City memastikan gelar juara di pekan terakhir Liga Primer. Bahkan, Liverpool berhasil mengangkat trofi Liga Champion kembali setelah 14 tahun terakhir.

Liverpool berhasil berkembang menjadi salah satu klub terbaik di Inggris, bahkan dunia. Bila melihat kiprah Liverpool di Liga Primer Inggris maupun Liga Champion, dan bagaimana permainan gegenpressing Liverpool yang di nahkodai Jurgen Klopp. Tidak heran bila banyak pihak mensejajarkan Liverpool dengan Barcelona dan Manchester City, sebagai jajaran klub terbaik di dunia.

Masalah Liverpool Di Awal Kepemimpinan Jurgen Klopp

Jurgen Klopp mengambil alih kursi nahkoda Liverpool pada bulan Oktober 2015. Waktu itu, Liverpool berada pada posisi 10 Liga Primer Inggris dengan raihan 12 point dan diferensiasi goal -2 dibawah pimpinan nahkoda sebelumnya, Brendan Rodgers. Catatan yang buruk bagi klub sebesar Liverpool dan menunjukan bagaimana kacaunya Liverpool ketika itu.

Ditunjuknya Klop menjadi manajer Liverpool melejitkan ekspektasi fans terhadap Jurgen Klopp yang mampu membawa Liverpool kembali ke masa jayanya di era 60-80’an. Tidak heran bila melihat kiprah Jurgen Klop yang mampu membuat Brorusia Dortmund, mampu mengalahkan Bayern Munich 2 kali dalam perebutan juara Bundes Liga (2010/2011 dan 2011/2012). Selain itu, berhasil menjadi runner-up Liga Champion musim 2012/2013.

Jurgen Klop terkenal sebagai manajer yang mengusung gaya bermain gegen pressing / Heavy metal Football yang memaksa para pemainya terus berlari merebut bola secepat mungkin. Gaya bermain bermain tersebut tidak mudah dijalankan oleh pemain di lapangan, bahkan oleh seorang profesional sekalipun. Singkatnya, kualitas pemain Togel yang ada belum memenuhi syarat dan cocok dengan taktik gegen pressing.

Hal tersebut terbukti dengan Liverpool yang hanya mampu berada di peringkat 8 Liga Primer. Meskipun Liverpool mampu mencapai final League Cup dan Europa League yang pada akhirnya gagal menjadi juara di keduanya, fakta bahwa skuad yang dimiliki Liverpool belum mampu bersaing dengan the big 6 lainya tidak bisa di abaikan.

Revolusi Liverpool diawali dengan ditunjuknya Michael Edwards sebagai Direktur Olahraga Loverpool dan Peter Moore sebagai CEO serta bagian sponsor klub. Bersama Klop, Edwards dan Moore memiliki andil besar dalam setiap kebijakan dan strategi transfer yang membawa Liverpool mendatangkan pemain-pemain yang dibutuhkan dan mampu membawa Liverpool pada kejayaan.

Revolusi di Club Liverpool

Berbeda dengan musim sebelumnya, musim 2016/2017 Klop memiliki pemain-pemain yang dipilihnya sendiri. Ditambah, proses latihan dan adaptasi pemain terhadap taktik gegen pressing yang dibawa Klopp dari Dortmun sudah mulai berjalan. Di tahun keduanya, Klop membawa Liverpool finis pada peringkat ke 4 dengan 78 point. Itu berarti, Liverpool kembali ke kompetisi Eropa setelah beberapa tahun absen.

Pada bursa transfer musim panas berikutnya, Liverpool menjual Andre Wisdom, Lucas Leiva, Kevin Stewart, dan Sakho dan mendatangkan Mohammed Salah, Solanke, Robertson, dan Alex Oxlade-Chamberlain. Transfer tersebut kembali sukses, bila kita melihat betapa pentingnya Salah dan Robertson sekarang, serta Chamberlain sebelum mengalami cidera panjang ketika membela Liverpool di Liga champion musim 2017/2018.

Perubahan Loverpool menjadi tim yang menakutkan di dataran Inggris semakin terlihat ketika musim 2017/2018 bergulir. Pembelian-pembelian Klop seperti Mane, Salah, Matip, robertson, dan wijnaldum menjadi sosok yang berkembang dan memberikan kontribusi besar bagi Liverpool. Salah-Mane-Firminho menjadi salah satu trio penyerang yang paling di takuti di dunia.

Memang, Kegemilangan trio penyerang Liverpool tersebut hanya mampu membuat Liverpool duduk pada peringkat 4 Primer League. Namun di kompetisi Eropa, Liverpool berhasil mencapai Final Liga Champion meskipun pada akhirnya harus kalah dari Real Madrid. Namun yang lebih penting, gaya permainan dan skuad yang dimiliki Liverpool semakin menjanjikan untuk bersaing di papan atas liga primer.

Liverpool Kehilangan 2 Pemain Handal

Liverpool kehilangan 2 pemain andalanya, Coutinho dan Emre Can. Diprediksi bahkan melemahkan kekuatan tim, gaya permainan Liverpool justru lebih jelas dan merata. Tidak seperti setelah transfer Suarez ke Barca, pemanfaatan uang hasil menjual Coutinho kali ini terbukti tepat dengan didatangkanya Van Dijk, Fabinho, Keita, Shaqiri, dan Alisson yang bersinar pada musim 2018/2019.

Pemain muda seperti Trent Alexander Arnold dan Joe Gomez juga mengalami peningkatan yang sangat pesat. Para pemain juga sudah hafal dengan strategi gegen pressing yang di anut Jurgen Klop. Hasilnya seperti yang kita ketahui, Liverpool menjadi runner up Liga Inggris dengan 1 kekalahan dan menjadi juara di Liga Champion.

Kini Liverpool telah benar-benar berevolusi menjadi klub yang benar-benar siap dan capable untuk berebut gelar juara premier league. Bahkan 4 pemain Liverpool: Van Dijk, Salah, Mane, dan Alisson menjadi jajaran pemain yang di favoritkan menjadi juara Ballon D’or. Tidak heran bila beberapa tahun kedepan kita akan lebih sering melihat Liverpool mengangkat trofi-trofi bergengsi.